TEOLOGI PERJANJIAN LAMA 1
PUASA DI DALAM PERJANJIAN LAMA




Oleh:
Nama: Daniel Lucky Elray Gulo
Mata Kuliah: Teologi Perjanjian Lama 1
Dosen Pengampu: Dr. Guntur Silaban M.Th




SEKOLAH TINGGI TEOLOGIA GLOBAL GLOW INDONESIA
April 2019
BAB 1: PENDAHULUAN
Dari judul diatas, kelompok kami akan menjelaskan mengenai puasa menurut perjanjian Lama. Namun, sebelum masuk lebih dalam lagi, ada baiknya para pembaca mengetahui arti kata puasa itu sendiri. Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), puasa adalah menghindar makan, minum dan sebagainya dengan sengaja, untuk menahan diri dari kedagingan. Biasanya, puasa dilakukan oleh semua agama dan banyak orang melakukan hal tersebut. Mereka percaya bahwa ketika mereka berpuasa, mereka akan lebih suci dan kudus.
Namun di dalam Alkitab, puasa diartikan yaitu merendahkan diri dihadapan Allah agar terjadi rekonsiliasi atau pendamaian terhadap Allah. Manusia memiliki dosa turunan yang mengalir di dalam tubuhnya, dan manusia memiliki kehendak bebas “free will” untuk melakukan dosa atau tidak. Dan pada faktanya, banyak orang dan tokoh di Alkitab yang berbuat dosa dan meminta rekonsiliasi (pendamaian) terhadap Allah. Menunjukkan bahwa didalam puasa, pasti ada pendamaian.
Namun pada kenyataanya, banyak sekali orang pada zaman sekarang, berpuasa hanya sekedar taat kepada aturan agama, tanpa menghidupan dan menyadari kesalahan dan dosa tersebut. Maka dari itu, orang Yahudi berpuasa dan memotong lembu (kambing/domba) agar ada pendamaian atas diri mereka masing-masing.
Maka dari itu, kelompok akan menjelaskan lebih detail kembali mengenai puasa, tetapi hanya di bagian Perjanjian Lama (Kejadian-Maleakhi). Kelompok menginginkan agar para pembaca memperhatikan dan mengerti secara detail mengenai puasa di dalam Perjanjian Lama




BAB 2: ISI
Puasa merupakan hal yang wajib dilakukan oleh bangsa Israel karena diatur dalam Hari Raya Pendamaian (Hari Grafirat, Imamat 16:29-31). Ada beberapa macam puasa di dalam Alkitab, terutama kepada orang Yahudi,
1.      Yom Kippur
Sebuah hari paling kudus bagi umat Yahudi sepanjang tahun. Yom Kippur adalah hari umat Yahudi mendekatkan diri pada tuhan dan menyucikan jiwa. Hari ini disebut pula “hari penebusan” atau "hari perdamaian". Ini sebagaimana ditulis dalam Imamat 16:30 TB: “Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan”. Puasa ini dilakukan selama hampir 25 jam, beberapa menit sebelum matahari terbenam pada 9 Tishrei sampai matahari terbenam pada 10 Tishrei. Tahun lalu Yom Kippur jatuh pada 12 Oktober, sementara pada tahun ini jatuh pada 30 September. Mirip dengan puasa Ramadan bagi umat muslim, puasa Yom Kippur adalah hari paling khidmat sepanjang tahun bagi umat Yahudi. Yom Kippur mengungkapkan suatu rasa percaya bahwa Tuhan menerima pertobatan, mengampuni dosa, dan menyegel tahun dengan kehidupan, kesehatan, dan kebahagiaan atau biasa disebut “Hari Raya Perdamaian”.
2.      Asara B’Tevet
Puasa Asara B’Tevet jatuh pada 10 Tevet dalam kalender Ibrani, sedangkan puasa Esther jatuh pada 13 Adar dalam kalender Ibrani. Puasa Asarah B’Tevet adalah puasa menandai awal mula pengepungan Yerusalem selama pemerintahan Nebukadnezar, yang berujung pada penghancuran Bait Hamikdash (Bait Allah) Pertama. Saat ini, Asara B’Tevet memiliki makna tambahan, yakni Yom Ha-Kaddish Ha-Klali, hari peringatan orang-orang Yahudi yang tewas selama peristiwa Holokaus yang hari kematiannya (Yahrzeit) tidak diketahui, dan bagi korban Holokaus dibacakanlah Kaddish.


3.      Shivah Asar B’Tammuz dan Tisha B’Av
Kedua puasa ini masuk dalam “Masa Tiga Minggu”, masa berduka selama tiga pekan yang terkait hancurnya Bait Suci. Ia memperingati saat tembok Yerusalem diruntuhkan dan diterobos oleh tentara. Masa ini mencapai puncaknya dan berakhir pada 9 Av (Tisha B’Av) saat Bait Suci Pertama maupun Kedua dilalap api. Ini adalah hari tersedih sepanjang kalender Ibrani. Ada banyak tragedi yang dialami bangsa Yahudi. Ada tradisi yang harus dipatuhi dalam menjalankan puasa “Masa Tiga Minggu”. Misalnya, mengurangi kegiatan yang membuat hati senang, misal merayakan pesta pernikahan, tidak mendengarkan lagu atau musik, tidak mengucapkan berkat Shehecheyanu (perayaan hari spesial), dan tidak mencukur atau memotong rambut. Sementara sembilan hari terakhir dimulai dari 1 Av dalam kalender Ibrani. Ini masa berduka paling intensif. Umat Yahudi pantang untuk makan makanan mewah, tidak minum anggur beralkohol, dan tidak memakai pakaian yang bersih. Sedangkan pada 9 Av atau Tisha B’Av, yakni hari puasa paling ketat, dijalani sejak matahari terbenam di hari sebelumnya: umat Yahudi berkumpul di sinagoge untuk membaca Kitab Ratapan. Selain berpuasa, pada tanggal itu, umat Yahudi menahan diri dari kenikmatan duniawi seperti mandi, memakai pelembab, memakai sepatu kulit, dan berhubungan seksual. Sampai siang, umat Yahudi harus duduk di lantai atau kursi paling rendah. 
Jadi, tujuan puasa adalah mencari hadirat Tuhan, merendahkan diri dan memohon ampun dan pemulihan dari Tuhan. Hal ini juga jelas terlihat pada Imamat 16:29-31, "Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan. Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.
Di dalam Perjanjian Lama, kita bisa menemukan banyak orang yang berpuasa seperti
  1. Musa, melakukan puasa 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum (Keluaran 34:28). Musa selama 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum untuk menuliskan 10 perintah Allah yang dituliskan Musa di atas 2 loh batu
  2. Daud tidak makan dan semalaman berbaring diatas tanah (2 Samuel 12:16). Daud berpuasa untuk meminta pengampunan atas dosanya dengan Batsyeba.
  3. Ester yang memaklumkan puasa 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum (Ester 4:16). Ester meminta semua bangsa Yahudi dan dayang-dayangnya untuk berpuasa agar mendapat pengampunan oleh Raja mengenai Mordekhai.
  4. Ayub, 7 hari 7 malam tidak bersuara (Ayub 2:13). Ayub menundukkan kepalanya selama 7 hari 7 malam karena atas kematian keluarganya dan seluruh harta yang dia punya.
  5. Niniwe, 40 hari 40 malam tidak makan, tidak minum dan tidak berbuat jahat (Yunus 3:7). Yunus berkata kepada Raja untuk berpuasa agar mendapat pengampunan atas setiap rakyat Niniwe, dan Raja meminta seluruh rakyat Niniwe untuk berpuasa agar mendapatkan pengampunan dan tidak terkena malapetaka.
Manfaat dari berpuasa menurut Alkitab (Yesaya 58:8-12)

1.      Terang
2.      Kesembuhan
3.      Kebenaran
4.      Kemuliaan
5.      Doa yang terkabul
6.      Tuntunan yang berkesinambungan
7.      Kepuasan hati
8.      Kekuatan yang diperbaharui
9.      Berkat kehidupan
10.  Pemulihan


BAB 3: KESIMPULAN
Puasa di dalam Perjanjian Lama itu wajib, karena masih terikat dengan hukum taurat. Puasa selalu bertujuan untuk meminta pengampunan atas dosa orang Yahudi di dalam Perjanjian Lama. Maka dari itu, bagi orang Yahudi, puasa itu menjadi hal yang wajib setiap tahunnya di dalam kebiasaan dan adat mereka. Tidak hanya berpuasa makan dan minum, tetapi ada juga berpuasa tidak berbicara, merenung, dan berpuasa karena suatu hal yang terdesak. Didalam Perjanjian Lama memang sangat wajib untuk Perjanjian Lama, tetapi ketika masuk Perjanjian Baru, puasa tidak menjadi wajib.

Komentar

Postingan populer dari blog ini