DOGMATIKA
III
JURNAL KRISTOLOGI MENURUT INJIL LUKAS
Oleh:
Nama: Daniel Lucky
Elray Gulo
Mata Kuliah: Dogmatika III - Kristologi
Dosen Pengampu: Dr. Herry Budi Yosef M.Th
SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA GLOBAL GLOW INDONESIA
MEI 2019
KRISTOLOGI
MENURUT INJIL LUKAS
Abstrak : Sebelum memasuki Kristologi menurut Injil Lukas,
pembaca harus mengetahui terlebih dahulu mengenai apa itu Kristologi.
Kristologi merupakan Dogmatika ke 3 dari Teologi Sistematika yang mempelajari
tentang Kristus, atau bisa dibilang teologi tentang Kristus. Kristologi
dimaksudkan untuk mengerti, merenungkan dan menyelidiki akan Yesus Kristus.
Kata
Kunci : Yesus, Mesias, Allah.
Didalam Injil Lukas,
ada banyak sekali Kristologi tentang Yesus Kristus, terdiri dari:
A.
Yesus
sebagai Mesias (Lukas 9:18-21)
Istilah "Mesias" adalah istilah teologis
Yahudi. "mengurapi," Kata Yunani "christos" berasal dari
kata kerja "chrio" yang berarti "noda" atau
"pengurapan." Ketika bahasa Ibrani "Mashiach"
ditransliterasikan ke dalam bahasa Yunani, hasilnya adalah "Mesias."
Karena itu, "Mesias" adalah bentuk transliterasi Yunani dari bahasa
Inggris dari bahasa Ibrani atau bahasa Aram “Mashiach.”
Mesias adalah orang yang diurapi. Orang yang diurapi
biasanya itu adalah seorang Raja, Imam dan Nabi. Dan Mesias itu ada Yesus
Kristus. Maka dari itu, 3 jabatan (Raja, Imam dan Nabi) itu dimiliki Yesus.
Mengapa? Karena Yesus adalah seorang Mesias. Yesus adalah Mesias yang
dijanjikan Allah. Seperti yang dinyatakan Petrus dalam pengakuannya bahwa Yesus
adalah seorang Mesias. Inipun semakin mempertegas bahwa Yesus adalah Mesias.
Banyak orang, khususnya orang-orag Yahudi yang
percaya bahwa Mesias Yahudi harus dianggap sebagai sosok manusia, tetapi Yesus
menunjukkan bahwa dalam kepercayaan pada Mesias bangsa Israel, Yesus dating
bukan untuk sebagai Mesias Politik, melainkan Mesias bagi para manusia yang
berdosa. Maka dari itu, Yesus tidak akan pernah mengatakan, “Kerajaan Yesus
bukan dari dunia ini, melainkan Kerajaan Sorga”.
Dalam pengakuan Petrus, Yesus, menurut
Lukas, mengatakan: “Engkau adalah Mesias dari Allah”. Jika dibandingkan dengan
Injil Markus maka kata “dari Allah” telah ditambahkan. Dengan penambahan itu
Lukas hendak meredupkan makna politis dari gelar itu dan menekankan bahwa
kemesiasan Yesus itu memiliki asal-usulnya dari Allah. Di dalam teks Lukas
20:41, Yesus mulai mempersoalkan tentang Mesias sebagai Anak Daud. Sebab Daud
sendiri menyebut Dia, Tuannya bagaimana mungkin Ia adalah anaknya pula? Jadi,
Yesus dalam Injil Lukas meredupkan makna politis itu dengan menempatkan status
Mesias itu sebagai Tuhan dari Daud sendiri. Apalagi saat pertanyaan dari
Mahkamah Agama Yahudi, Yesus tidak menjawab secara langsung terhadap pertanyaan
itu, karena Yesus tahu bahwa mereka tidak mungkin mempercayainya. Jadi Yesus
sama sekali menghindari legitimasi politis terhadap gelar itu.
Di dalam Kisah Para Rasul 2 dan Mazmur
16:10, menunjuk kepada Mesias karena dalam kenyataanya tidak dapat dikenakan
kepada Daud sendiri sebab ternyata Daud mati dan dikuburkan sedangkan Yesus
mati tetapi bangkit kembali. Maka dari itu, Lukas melihat bahwa ada suatu motif
penggenapan. Tetapi dalam pemberitaannya mengenai Yesus sebagai Mesias, ia
kadang-kadang menambahkan ungkapan yang menyatakan bahwa penderitaan dan
kematian Yesus adalah sesuatu yang perlu sesuai dengan yang dinubuatkan dalam
Kitab Suci.
Kemesiasan Yesus di dalam Injil Lukas diragukan oleh
banyak orang, terkhususnya adalah para murid, di dalam Injil Lukas 9:19, ketika
Yesus bertanya “siapakah Aku ini?” para murid banyak yang tidak mengetahui
bahwa Yesus adalah Mesias. Lukas 9:19 berkata “Jawab mereka: Yohanes Pembaptis,
ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang
nabi-nabi terdahulu telah bangkit”. Seorang murid saja tidak mengetahui bahwa
Yesus adalah Mesias. Banyak orang menganggap bahwa Mesias datang dalam bentuk
seorang penyelamat perang untuk Israel. Padahal, kenyataanya adalah bahwa
Mesias datang untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia. Mesias bukanlah
alat politik untuk memenangkan suatu pertempuran atau suatu peperangan,
melainkan Mesias datang untuk memenangkan umat manusia dari kejatuhannya akan
dosa yang sudah mendarah daging atas hidup mereka.
Jadi bagi Lukas, Mesias bukan seorang
figure politis, melainkan seorang figure Mesias yang menderita sesuai dengan
janji Kitab Suci untuk memberikan keselamatan kepada manusia, gagasan yang sama
dijumpai dalam gelar sebagai Anak Daud.
B. Yesus adalah Anak Allah
Istilah anak Allah bukan pertama kalinya muncul
hanya pada zaman Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, penyebutan Anak Allah
diterapkan untuk menunjuk kepada orang-orang percaya (Lukas 6:35). Selain itu
penyebutan Anak Allah secara langsung ditujukan kepada Yesus. Lukas adalah
salah satu penulis yang juga menyebut Yesus sebagai Anak Allah. Penggunaan
gelar Anak Allah kepada Yesus dalam Lukas 1:35 menunjukkan bahwa proses
kelahiran Yesus merupakan campur tangan Ilahi. Secara langsung menunjukkan
bahwa Yesus yang akan dilahirkan itu tidak tercemar oleh dosa karena Dia
dijadikan oleh Allah sendiri.
Dalam Lukas 3:22 berkata “….. Engkaulah Anak-Ku yang
Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” memiliki kesamaan pada Mazmur 2:7 yang
berkata “…. Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”. Karena banyak
sarjana-sarjana yang berpendapat bahwa adanya kesamaan pada teks tersebut. Dan
justru atas nats inilah orang pernah mendasarkan ajaran bahwa Yesus diadopsi
menjadi Anak Allah ketika Ia dibaptis. Namun pada akhirnya, dijelaskan dalam
Mazmur 2:7 tadi, bahwa ada penekanan dalam bagian pertamanya (Engkaulah
Anak-Ku), bukan pada bagian keduanya dan sama sekali bukan pada kata “pada hari
ini”. Jadi kalau Lukas 3:22 di ingat kepada Mazmur 3:7, maka segala tekanan
jatuh pada bagian pertama Allah memprolamasikan bahwa Yesus ini berhal digelari
“Anak Allah” sebab, Dialah Mesias.
Yesus tidak pernah menyatakan diri sebagai Allah,
melainkan Dia menyatakan diri sebagai Anak Allah. Istilah Anak Allah dengan
Anak manusia adalah sama, yang merupakan gelar/sebutan yang sangat penting dan
sering digunakan Yesus.
Komentar
Posting Komentar